Perkembangan Sosial untuk Anak

Perkembangan sifat sosial berlaku untuk semua manusia bahkan untuk anak. Perkembang sosial untuk anak ini bsia kita lihat dalam perkembangan permainannya sehari-hari.
Menurut Jurnal Abnormal dan Psikologi Sosial, perkembangan sosial untuk anak dibagi kedalam 6 tahap yaitu:

Bermain Sendiri

Pada tahap awal perkembangan anak, anak-anak cenderung bermain sendiri meskipun terlihat sangat aktif dan tidak ada kontak antara teman-teman disekelilingnya. Biasanya mereka bergerak secara random namun tidak ada tujuan yang jelas. Biasanya tahap ini terjadi pada bayi yang baru lahir dari umur 0 sampai dengan 2 tahun. Tahap ini merupakan tahap yang paling menentukan perkembangan sosial untuk anak.

Bermain Menyendiri atau Berpasangan

Saat sikecil memiliki teman dekat dan mulai menempel pada teman tersebut, tentunya selain orang tua. Bisa jadi tante nya atau kakak nya. Ini merupakan tanda sikecil sudah masuk kedalam tahap kedua. Hal yang paling harus diperhatikan pada tahap ini adalah, pertajam sifat kognitif buah hati anda dengan cara memberikan permainan puzzle, mulai mengucapkan abjad, mengenalkan mainannya, serta memperhatikan si kecil, apakah mereka mampu menyelesaikan hal tersebut. Adapun tujuan dari pelatihan kognitif ini akan ditandai pada kemampuan anak untuk mengutarakan apa yang diinginkan atau dikehendakinya. Biasanya tahap ini terjadi antara umur 2-3 tahun.

Menjadi Penonton (Onlooker Play)

Ketika sikecil sering terlibat aktif dalam menonton teman-teman sebayanya atau bahkan kakak-kakaknya itu adalah salah satu ciri dari tahap anak anda memasuki onlooker play. Sesuai dengan namanya, onlooker play sendiri artinya si kecil tidak ikut terlibat secara aktif dalam permainan, namun menyaksikan dan memberikan responnya sendiri yang ditentukan oleh sifat kognitifnya. Misalkan ketika ada hal yang lucu dia mulai tertawa atau bahkan ketika disuruh menebak suatu kuis, dia ikut menunjuk dengan intuisinya. Perkembangan Sosial untuk Anak sudah mulai mudah dilihat dari sini. Dimana sifat sosialnya mulai tumbuh dan berinteraksi.

Bermain Secara Paralel

Bermain secara paralel merupakan tingkat yang sudah memiliki kemajuan yang lebih maju. Hal ini terjadi ketika anak-anak bermain berdampingan satu sama lain, namun ada sedikit keterlibatan kelompok di antara mereka. Mereka biasanya akan bermain dengan mainan serupa dan sering kali meniru satu sama lain. Bermain paralel sering terjadi pada balita berusia antara 2,5 dan 3,5 tahun. Namun dapat juga berlangsung pada usia berapa pun. Meskipun sepertinya ada sedikit kontak di antara mereka, anak-anak ini belajar keterampilan sosial yang berharga dan benar-benar belajar cukup banyak satu sama lain. Untuk alasan ini, permainan paralel penting sebagai tahap sementara untuk pengembangan kematangan sosial, yang merupakan kunci untuk tahap selanjutnya bermain.

Bermain Asosiatif

Pada tahap ini, anak-anak akan mulai bermain bersama, namun tidak fokus menuju tujuan bersama. Seorang anak akan lebih tertarik bermain dengan anak-anak lain di sekitar mereka daripada mainan individual yang mereka mainkan. Bermain asosiatif sedikit berbeda dari permainan paralel karena anak-anak dapat terus bermain terpisah satu sama lain, namun mereka mulai terlibat dalam apa yang dilakukan orang lain di sekitar mereka. Anda mungkin menemukan anak-anak bermain atau berdagang dengan mainan yang sama atau berbicara atau saling melibatkan satu sama lain, namun tidak ada aturan main yang ditetapkan. Jenis permainan ini biasanya dimulai sekitar usia 3 atau 4 tahun, berlanjut ke usia pra-sekolah. Ini adalah tahap permainan yang penting karena ia mengembangkan keterampilan yang diperlukan seperti kerja sama, pemecahan masalah, dan pengembangan bahasa.

Bermain Kooperatif (Bekerja Sama)

Permainan kooperatif adalah tempat bermain akhirnya menjadi terorganisir dalam kelompok dan kerja tim yang terlihat. Anak-anak sekarang tertarik pada orang-orang yang mereka mainkan dan juga aktivitas yang ada. Kelompok ini lebih formal dengan pemimpin, serta peran lain yang ditugaskan, dan bermain mengatur sekitar pencapaian tujuan kelompok atau tugas tertentu. Permainan kooperatif dimulai pada akhir masa prasekolah, antara usia 4 dan 6. Hal ini jarang terjadi melihat anak-anak mencapai tahap ini sampai tahun-tahun belakangan ini, karena memerlukan serangkaian keterampilan organisasi dan tingkat kedewasaan sosial yang lebih tinggi. Bermain kooperatif memang merupakan puncak, membawa semua keterampilan yang dipelajari dari tahap sebelumnya ke dalam tindakan, memberi anak itu keterampilan yang diperlukan untuk interaksi sosial dan kelompok.

Kesimpulan perkembangan sosial untuk anak

Pada peserta didik di awal tahun, kita tahu bahwa bermain adalah bagian penting dari hari anak. Maka dari sinilah, mereka belajar bekerja sama, memperluas kosakata mereka dan membawa imajinasi mereka ke kehidupan. Menyadari pentingnya bermain, kami menempatkan prioritas untuk memastikan bahwa anak-anak kita menikmati berbagai bentuk permainan sepanjang hari sekolah mereka. Untuk memulai dan mengakhiri setiap hari, anak-anak mengalami permainan bebas di mana mereka dapat menggunakan perlengkapan kelas mereka tanpa struktur. Sepanjang hari, para guru kami memimpin berbagai bentuk permainan untuk mendorong pengembangan bahasa, memperkuat keterampilan matematika dan mendorong kerja sama tim. Sangat menyenangkan untuk melihat berbagai tahap yang ditunjukkan di kelas kita saat anak-anak tumbuh dalam permainan kooperatif dan bermain imajinatif yang lebih rinci semakin. Lihat artikel lainya.

 

Referensi

Parten, M (1932). “Social participation among preschool children”. Journal of Abnormal and Social Psychology

Post Author: tknuri

TK NURI adalah Taman Kanak-kanak pertama yang didirikan di Desa Kutawaringin Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung.